Allah berfirman yang bermaksud “Dan datanglah dari hujung kota seorang laki-laki (Habib An Najr) dengan bergegas-gegas ia berkata: Wahai kaum ku !ikutlah Rasul-rasul itu. Ikutlah orang yang tidak meminta balasan kepada mu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang menciotakan aku, dan hanya kepada Nyalah kamu akan dikembalikan. Mengapa aku menyembah tuhan-tuhan selain Nya, jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, nescaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun pada diri ku, dan mereka tidak dapat menyelamatkan ku. Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhny aku telah beriman dengan Tuhanmu, maka dengarkanlah pengakuan keimanan ku. Dikata kepadanya masuklah ke syurga, ia berkata alangkah baiknya sekiranya kaum ku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhan ku memberi ampun kepada ku dan menjadi aku termasuk orang-orang yang dimuliakan” (Yaasiin;20-27)
Itulah kisah seorang lelaki yang mendengar dakwah dan menerimanya, setelah dia melihat bukti-bukti kebenaran dan seruan yang disampaikan kepada kaumnya. Ketika hatinya merasa hakikat keimanan, hakikat itu bergerak di dalam hatinya, sehingga dia tidak boleh berdiam diri di rumah tanpa mengambil apa-apa tindakan dan hanya melihat kesesatan,kebatilan,kekufuran dan kemaksiatan berleluasa disekelilingnya. Dia terus berjalan keluar membawa kebenaran yang telah meresap dan membara dalam perasaan dan hatinya. Ia berjalan menuju kepada kaumnya untuk mengatakan kebenaran, sedangkan mereka mendusta dan menolak kebenaran, bahkan mengancam untuk membunuhnya.
